KEBENARAN DIBERITAHU: Era Digital telah mengubah interaksi sosial
Diterbitkan: 2019-12-02“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang membuat kita menjadi manusia.” – Jan Koum, pendiri Snapchat.
Interaksi sosial tidak diragukan lagi telah berjalan jauh. Dalam beberapa dekade terakhir, kemajuan penting dalam teknologi telah memungkinkan kita untuk berkomunikasi satu sama lain secara real-time, terlepas dari jarak dan zona waktu. Yang kami butuhkan hanyalah koneksi Internet yang stabil dan perangkat yang mumpuni, dan pastikan penerima sudah siap di belahan dunia lain, dan kami siap berangkat.
Surat siput, yang biasanya memakan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk mencapai tujuannya, perlahan-lahan menjadi sesuatu dari masa lalu. Mode komunikasi tradisional ini sedang digantikan tidak hanya oleh surat elektronik (email) tetapi juga dengan teks dan pesan instan.
Sangat menggoda untuk berpikir bahwa inovasi dalam komunikasi ini hanya menawarkan kemudahan dan manfaat, dan beberapa orang mungkin setuju dengan hal ini. Tapi sayangnya, tidak demikian. Untuk setiap manfaat yang dapat kita nikmati dari teknologi adalah kemunduran yang harus kita atasi.
Teknologi Mengubah Interaksi Sosial
Metode komunikasi modern yang sama yang menghubungkan orang-orang dari negara dan budaya yang berbeda di seluruh dunia juga sedang membangun tembok yang secara berbahaya mempengaruhi jalinan masyarakat.

Munculnya situs jejaring sosial seperti Facebook, Instagram, dan Twitter mungkin telah membantu orang terhubung dengan kerabat jauh dan teman masa kecil, tetapi situs web dan aplikasi ini juga memengaruhi cara orang berinteraksi dengan orang-orang di sekitar mereka, terutama di dalam keluarga.
Era digital saat ini tentu saja telah mengubah cara kita berinteraksi dengan orang lain, cara kita memandang diri kita sendiri di masyarakat, dan cara kita tetap diperbarui. Berikut adalah beberapa contoh di mana teknologi mengubah interaksi sosial:
- Masyarakat “Terpasang” – Saat ini, sudah menjadi skenario umum di bus komuter, kereta api, atau transportasi umum apa pun untuk melihat penumpang menatap ponsel atau tablet mereka, memikirkan bisnis mereka sendiri dan bukan siapa pun di sekitar. Beberapa dari mereka bahkan memakai earphone, tidak mau diganggu atau dibujuk untuk berbicara.
Itu tidak mengherankan, mengingat studi terbaru menyatakan bahwa rata-rata orang menghabiskan 3 jam dan 15 menit di perangkat selulernya setiap hari. Ponsel cerdas dan perangkat yang dapat dikenakan terus dikembangkan dan ditingkatkan sehingga orang dapat membawanya ke mana pun mereka berada, dan itulah tepatnya yang kami lakukan hari ini.
Alih-alih menikmati aspek biasa dari kehidupan sehari-hari, kami mencoba untuk tetap online sebanyak mungkin.
- Online Ketimbang Offline – Soal poin sebelumnya, meski hadir bersama rombongan, sebagian orang tidak bisa menahan diri untuk tidak menggunakan smartphone mereka. Mereka lebih suka terhubung dengan orang lain secara online daripada offline. Akibatnya, orang-orang ini dapat mengatakan bahwa mereka memiliki banyak koneksi online, tetapi sangat sedikit teman sejati yang dapat mereka percayai dan andalkan.
Perubahan khusus dalam interaksi sosial ini juga mempengaruhi sistem keluarga. Lewatlah sudah hari-hari ketika keluarga duduk bersama di depan meja makan untuk membicarakan hari mereka dan berhubungan satu sama lain. Anak-anak dan terkadang, bahkan orang tua, terpaku pada ponsel mereka ketika mereka sampai di rumah. Hal ini mengakibatkan berkurangnya keintiman di antara anggota keluarga.
- Dorongan untuk Berbagi – Karena aplikasi jejaring sosial menjadi lebih mudah digunakan dan dinavigasi, semakin banyak orang yang ingin berbagi semuanya secara online. Hubungan, sakit hati, pengasuhan anak, perjalanan, tugas sehari-hari, dan makanan—sebut saja. Teknologi modern saat ini memberi orang kebutuhan untuk memposting dan berbagi, terutama untuk mendapatkan perhatian dari lingkaran sosial mereka secara online.
Selfie Generation – Interaksi sosial saat ini telah melampaui kata-kata. Selfie membanjiri Internet, yang sebagian besar membutuhkan perhatian, suka, reaksi, dan bagikan. Dalam berbagi selfie, tidak masalah jika Anda baru bangun tidur. Dengan sedikit mengutak-atik kamera atau aplikasi foto ponsel cerdas Anda, Anda akan dapat mengambil gambar "bangun seperti ini" paling segar yang pasti akan disukai teman-teman Anda.


Sayangnya, ini juga mempromosikan budaya online yang hanya menerima keindahan dan kesempurnaan.
- Digital News – Sebuah studi yang dilakukan oleh Wibbitz menemukan bahwa kaum milenial kebanyakan mengandalkan media online untuk mendapatkan berita terbaru. Artinya kelompok usia ini (24–39) tidak lagi mendapatkan berita dari TV. Membaca berita terbaru secara online tidak hanya membuat mereka diperbarui secara real-time, tetapi juga memungkinkan mereka untuk menyuarakan pendapat mereka tentang berita tersebut melalui suka, reaksi, bagikan, atau komentar.
- Bisnis Bergerak Online – Bahkan kampanye dan strategi pemasaran bisnis perlahan-lahan bergerak secara online. Iklan tradisional mungkin masih ada, tetapi sebagian besar konsumen melihat iklan yang ditempatkan secara online, baik di media sosial, publikasi berita digital, atau mesin pencari.
Mengingat bahwa sebagian besar kue pasar terdiri dari milenium sebagai penduduk asli digital, bisnis harus menyesuaikan dan menyesuaikan strategi mereka untuk menarik mereka melalui bentuk periklanan modern.
Pemasaran digital juga telah menggantikan pemasaran tradisional, memungkinkan pendatang baru di industri untuk membuat dampak sejak dini. Bahkan keamanan kini telah mengambil pendekatan yang lebih digital. Untuk mengurangi risiko pelanggaran keamanan digital, bisnis harus menggunakan sistem keamanan canggih.

Menemukan Keseimbangan yang Tepat
Memang, dengan semua bentuk teknologi modern yang berkembang saat ini, sulit untuk membayangkan bagaimana kehidupan dulu sebelum smartphone dan aplikasi muncul. Tetapi semua masa kanak-kanak yang gemilang itu telah berakhir, dan kita harus menghadapi kenyataan bahwa teknologi modern tidak hanya akan tetap ada, tetapi juga akan terus berkembang untuk meningkatkan kehidupan dan membuat segalanya menjadi mungkin.
Namun, sebagai manusia, kita harus selalu menemukan keseimbangan yang tepat—menggunakan teknologi dan metode komunikasi modern, namun tetap setia pada jenis komunikasi paling dasar—interaksi dan percakapan sosial.
Kita tidak boleh membiarkan teknologi mendikte bagaimana kita tumbuh, berpikir, dan berinteraksi sebagai manusia. Kami telah bertahan begitu lama tanpa Facebook atau Google, yang berarti ini bukan akhir jika Anda puas dengan percakapan kuno sesekali.
Ini hanya masalah untuk tetap setia pada diri kita sendiri sebagai makhluk sosial karena, seperti yang dinyatakan sebelumnya, itulah yang membuat kita menjadi manusia.
